Kamis, 28 Agustus 2014

Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Diperjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran ia menghapiri belalang itu dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh..??"
Belalang itupun menjawab dengan pertanyaan "Dimanakah kau selama ini tinggal.? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan".
Saat itu si belalang baru sadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah anda separah itu. bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. (ilustrasi OBOR edisi Juli 2014)

Minggu, 09 Maret 2014

Kesetiaan Adalah Modal Kemenangan

 “… Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” (Ayub 1 : 1-22)

Teman-teman pasti tau tentang cerita Ayub, dia adalah seorang yang kaya raya dan berkelimpahan secara harta. Namun demikian walaupun dia seorang yang kaya dia tetap menjadi seorang yang sangat taat kepada Tuhan Allah. Dia adalah orang yang mendapatkan ujian yang paling berat sepanjang sejarah Alkitab. Dia secara tiba-tiba menjadi miskin, seluruh hartanya dirampas oleh orang-orang Syeba dan orang-orang Kasdim, bahkan tidak berhenti sampai di situ penderitaan Ayub, anak-anaknya pun semuanya tewas ditelan badai yang merobohkan rumah dimana mereka berada. Ayub sendiri mendapatkan penyakit yang sangat mengenaskan bahkan sampai istrinya menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan Allah.
Dari serangkaian peristiwa yang dialami oleh Ayub ini, secara manusia saat ini tentunya diantara kita tidak ada yang sanggup tahan dari peristiwa tersebut, namun Ayub oleh karena iman dan kepercayaannya kepada Tuhan yang memberikan kehidupan, dia akhirnya memperoleh kemenangan atas ujian tersebut.
Teman-teman pemuda yang diberkati oleh Tuhan, dalam kehidupan masa muda kita ini, kita dituntut untuk tetap setia kepada Tuhan ketika diperhadapkan dengan ujian-ujian masa kini. Memang diantara kita mungkin saat ini sedang diperhadapkan dengan pergumulan yang menurut kita adalah pergumulan yang paling berat, namun marilah kita tetap setia kepada Tuhan sambil mengimani bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita semua.

Ujian bagi kita sebagai pemuda saat ini cendrung kepada bagaimana kita menahan keinginan kita terhadap hal-hal yang akhirnya membawa kita kepada kesengsaraan. Saat muda adalah saat dimana kita menyusun kehidupan kita agar dimasa tua kita dapat hidup tenang bersama dalam genggaman tangan Tuhan. Tentunya itu akan sangat mungkin jika selama kita muda, kita mampu hidup berdasarkan Firman yang diajarkan Tuhan bagi kita, agar kita bisa menjadi orang-orang pemenang seperti Ayub yang menang atas penderitaannya.

"..Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apayang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukanya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2Korintus 5:10)

Senin, 03 Maret 2014

Doa Dan Cita-cita

Sebagai anak muda kita pasti memiliki cita-cita dan harapan, kita sebagai siswa dan mahasiswa tentunya kita memiliki harapan untuk sukses dalam bangku pendidikan, kita yang sedang mencari pekerjaan tentunya kita memiliki cita-cita dan harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, bagi kita yang sedang bekerja tentunya kita mengharapkan pekerjaan kita ini boleh memberkati kehidupan kita, begitupun dalam kehidupan sebagai anak muda dalam pergaulan, bagi kita yang belum memiliki pasangan pastinya kita merindukan dan berharap kita memiliki pasangan, bagi mereka yang telah berpasangan dalam hal ini sedang pacaran pastinya kita mengharapkan pasangan kita adalah yang terbaik untuk kita, dan bagi mereka yang telah menentukan pilihan mereka pada pasangannya pastinya berharap tentang pernikahan dan membentuk keluargga yang baru.
Nah teman-teman yang diberkati oleh Tuhan, cita-cita dan harapan kita tentunya harus kita bawa dalam doa, memohon kepada Tuhan Sang Pencipta untuk kiranya dapat mewujudkan cita-cita dan harapan kita masing-masing. Namun demikian banyak diantara kita ketika kita berdoa terkadang lewat kata-kata doa kita, seakan-akan kita sedang mendikte Tuhan atau sedang memaksakan kehendak kita kepada Tuhan untuk dapat se-segera mungkin mengabulkan doa kita. Siapakah kita sehingga kita mendikte atau memaksakan kehendak kita kepada Tuhan..?? “dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik” (Matius 6:5a)
Tuhan adalah agung dan pemurah bahkan panjang sabar, maka kita sebagai anak dan hambanya ketika kita memohon kepadaNya hendaknya merendahkan diri dan bermohon bukan memaksakan doa kita sehingga selanjutnya biarkan kuasa Tuhan yang bekerja bukanlah kuasa kita, maka Tuhan akan memperhatikan doa kita. “..tetapi jika engkau berdoa, masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:6)
Teman-teman yang diberkati Tuhan, biarlah kita menyerahkan seluruh cita-cita dan harapan kita kepada Tuhan dan biarlah Tuhan yang akan mengatur kehidupan kita lewat tanganNya yang penuh kuasa. Ketika kita berdoa untuk mendapatkan pekerjaan sebagai seorang ini, tetapi akhirnya kita mendapatkan pekerjaan lainnya yakinkanlah itu sebagai cara Tuhan untuk memberkati anda sekalian. Terkadang jawaban doa yang sampai kepada kita berbeda dengan permohonan kita, janganlah kita berkeluh kesah, tetap jalani dan berusaha dengan keyakinan Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu yang buruk bagi kita melainkan Tuhan telah merancangkan damai sejahtera bagi kita semua yang selalu berharap kepadaNya.

“..karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepadaNya.” (Matius 6 :8b)

Indra 04-03-2014

Rabu, 26 Februari 2014

Terima Kasih Tuhan Untuk Pelajarannya

Aku mengawali hari itu dengan keluhan-keluhan kecil. Tugas-tugas yang menumpuk membuat aku sulit untuk memilih dari mana aku harus memulainya sedangkan waktu penyelesaiannya hampir bersamaan. Ditambah lagi kondisi fisik tubuhku rasanya tak mampu. Keadaan-keadaan inilah yang membebaniku pagi itu, yang membuatku mengabaikan saat teduh pribadiku bersama DIA. Hanya sebuah kalimat sederhana yang sempat terucap ”Thanks GOD for today..., sebelum aku menyiapkan diri dan bergegas ke tempat kerjaku. Mobil yang kutumpangi melaju dengan cepat, membawa diriku dengan berbagai kekesalan di hati. Kupandangi tumpukan kertas yang berisi tugas-tugas yang harus kuselesaikan. ”...mengapa semalam aku harus sakit sehingga aku tak bisa mengerjakan tugas-tugas itu??..sedangkan di kantor seseorang telah siap menanti hasil penyelesaiannya... Tiba-tiba mobil berhenti...aku kaget...apa sebenarnya yang terjadi?? Ternyata ada seorang yang terganggu jiwanya berdiri tepat di depan mobil. Sosok dengan penampilan yang acak-acakan serta senyum kecut di bibirnya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan gertakan dari sang sopir. Spontan air mataku menetes... ”TUHAN mengapa mereka harus seperti ini...?? Bukankah mereka juga adalah ciptaanMU yang termulia???..aku tahu ENGKAU juga mengasihi mereka..” Selang beberapa menit, seorang penumpang harus turun jadi mobil pun berhenti. Mataku tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di kursi roda.. ”TUHAN, mengapa ENGKAU memberikan umur yang panjang kalau akhirnya harus menderita seperti itu??..hati kecilku pun bertanya sekaligus berusaha menjawab..”pasti ada maksud TUHAN di balik semua itu..” Belum lepas pandanganku dari sosok nenek tua dengan kursi rodanya..sebuah mobil jenazah lewat..aku bergumam ”...ya, inilah hidup..TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN..”. Kini mobil yang kutumpangi menyusuri jalan di antara hamparan kebun sayur yang tertata indah laksana ukiran-ukiran yang membentuk perbukitan yang hijau... Untuk kesekian kalinya aku terkagum...”sungguh, tiada yang seperti ENGKAU TUHAN, betapa indahnya alam ini..”. Tanpa terasa perjalanan selama hampir satu jam telah membawaku ke tempat kerjaku. Belum juga kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan di depan kantorku, mataku terpaku pada seorang pedagang kaki lima dengan jualannya yang tampak tak ringan...juga seorang kakek tua dengan bendi tuanya sibuk mencari penumpang.. Hatiku tersentak.. ”..ya..inilah hidup yang harus diperjuangkan..” Pikiran dan perasaanku berkecamuk, berusaha untuk mengerti maksud TUHAN di balik semua peristiwa yang kusaksikan.. Aku tak kuasa membendung air mataku,,yang sejak tadi terus menggenangi mataku..”TUHAN yang akan memberikan pengertian kepadaku..” Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu kantor...Apa yang terjadi?? Ooh..aku baru ingat seorang temanku berhari ulang tahun.. Suasana ceria meliputi ruangan kantorku..Kami berjabatan tangan, bercanda tawa sambil menikmati makanan ringan yang telah disiapkan..aku pun bergumam..”..hidup itu anugerah dan kita harus mensyukurinya..” Setelah semuanya selesai, seperti tanpa beban aku mulai mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari itu.. Lembar demi lembar kertas berpindah tempat setelah aku meyelesaikan perhitungan-perhitungan di dalamnya.. Kuraih sebuah lembaran kertas..aku kaget..”benarkah ini lembaran terakhir??.. seakan tak percaya aku kembali memeriksa kembali tumpukan kertas yang telah berpindah tempat.. Oh ”Thanks GOD” ini benar-benar lembar yang terakhir.. Tanpa menunggu lama aku pun langsung menyelesaikan semuanya.. ”Sudah selesai??..” seseorang mengagetkanku.. ”Iya Pak...ini hasilnya..” jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah kususun rapi.. ”Terima kasih”..ujarnya kembali.. Peritiwa sepanjang hari itu kembali terbayang di benakku.. Kekesalanku di pagi hari...kejadian-kejadian yang kusaksikan saat berada dalam perjalanan sampai suasana sukacita di kantorku yang membuatku lupa akan bebanku di pagi hari.. Aku tersenyum.. ’Thanks GOD, ENGKAU mengajarkan banyak hal untukku hari ini..terima kasih karena ENGKAU mengganti kekesalanku dengan sukacita yang kuperoleh dari apa yang kusaksikan...tak seharusnya aku terpaku pada besarnya masalah yang sepertinya harus kuselesaikan..tak seharusnya aku mengabaikan saat teduhku karena sepertinya dikejar aktivitas..ampuni aku TUHAN..tak seharusnya aku tidak bersyukur..aku harus belajar untuk menghargai hidup sebelum terlambat..aku harus belajar menjalani hidup dengan sukacita..aku harus berjuang tanpa keluhan-keluhan yang justru menghalangi perjuanganku..aku harus terus belajar melihat karya ALLAH dalam semua hal yang kualami dan kusaksikan.. ”Terima kasih TUHAN..”.. Inilah kalimat-kalimat yang terus menghiasi hatiku hingga akhirnya jam kantor selesai.. Aku pulang dengan sukacita..”terima kasih TUHAN, betapa luar biasanya ENGKAU...sungguh semuanya baik ketika itu kujalani bersamaMU dan tanpaMU aku tak kan bisa berbuat apa-apa karena aku bukan siapa-siapa. Biarlah apa yang kudapatkan hari itu bisa dirasakan oleh saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan sesamaku.. ”Terima kasih Tuhan...”
Oleh : Jeiske
Email: j315k3@yahoo.co.id

Redaksi : Tuhan menempatkan orang miskin, orang yang beban berat, orang tua renta, orang cacat, dll, bukan untuk menjadi beban bagi kita orang muda dan orang kaya atau mapan melainkan untuk memberikan kepada kita teguran agar tidak meninggalkan Tuhan. Bukan berarti orang miskin, orang yang berbeban berat, orang tua renta adalah orang yang telah meninggalkan Tuhan, bukan.. bahkan doa merekalah yang paling banyak di dengar Tuhan. Yang saya maksudkan di sini adalah mereka ada untuk megingatkan kita untuk tetap bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah memberikan kepada kita berkat yang melebihi orang-orang tersebut, dan mengapa tidak kita menjadi alat Tuhan untuk menjawab doa dari orang-orang tersebut..?? “.. sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.” (2 Kor 9:14)

Minggu, 23 Februari 2014

Mendaki Gunung Kehidupan

"Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia" (Filipi 1:29)
Kehidupan ini ibarat gunung yang sangat tinggi, hanya orang yang siap yang mampu mendaki sampai ke puncaknya. Siap dalam hal ini adalah memiliki mental yang sangat kuat, berkomitmen tinggi pada pribadi, siap secara lahir dan batin dalam menghadapi segala tantangan yang akan ditemui ketika mendaki puncak kehidupan. Sebagai anak muda, kita telah dikaruniakan oleh Tuhan talenta-talenta yang berbeda, maka kita memiliki cara yang berbeda pula ketika mencapai puncak dari kehidupan kita masing-masing. Namun yang harus kita ingat sebagai anak muda adalah puncak kehidupan adalah kehidupan yang kekal ketika diam bersama-sama dengan Tuhan di dalam sorga, karena itu apapun usaha kita dalam mendaki gunung kehidupan ini, hendaklah kita menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pemandu jalan kita. Anak muda di jaman sekarang tidak jarang harus menyerah ditengah jalan ketika menemui tantangan dan hambatan yang menghalangi perjalanan mereka menuju puncak kehidupan, mengapa?? karena mereka tidak bersedia menerima penderitaan oleh karena tantangan dan hambatan dalam kehidupan. Mereka berhenti di tengah jalan dan melepaskan diri dari tangan Tuhan sebagai penuntunnya dan berpaling pada jalan yang lain sehingga mereka terjerumus dalam jurang dosa dan kebinasaan. Tentunya sebagai anak muda kita pasti mendambakan hidup yang selalu diberkati dan dalam genggaman tangan Tuhan. Untuk itu hendaknya kita selalu berpegang teguh pada tangan Tuhan dan mempersiapkan diri kita dengan pekal Firman dan menuju pada arah yang di arahkan oleh Tuhan. Hiduplah bersama Kristus agar senantiasa penderitaan akan terasa enteng ketika bersama Tuhan.